Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MALANGNYA SANG KRISTAL

[Img: Buzzfeed]

Kala Cakrawala Nirwana Menggugah Hati, Dunia mulai goyah, Sekali Goyah dunia merana.

Mungkin langit ada yang memikul, agama sudah bergantung pada sholat, nah hati siapa yang menanggung? yang ada ia hanya bersandar pada raga, sedangkan kehidupan raga ada pada hati. Apakah takkan goyah dunia ini ketika hati tergugah?!

Hati akan selalu bersandar pada pemiliknya, Dunia Sesekali akan Goyah, Namun setiap dunia selalu ada pilar-pilar yang membutuhkan Kuat, tak perlu risaukan hati siapa yang tergugah karna setiap pilar dunia itu selalu meneteskan mutiara-mutiara yang tak terhingga, hingga mutiara itu bisa membuat dunia tegak kembali.

Kilauan mutiara tak pernah sanggup melawan sinar matahari, sedangkan matahari itu selalu terbit setiap pagi. Mungkin ketika ia terbenam, kita bisa lupa karena cahaya bulan, itupun karena pantulan dari matahari itu sendri. Mungkin di situ matahari bisa tak terlihat nyata, tetapi esok ia akan terbit lagi menyapa kita, hilanglah sang mutiara tersebut. Dan seperti itu seterusnya.

Sinar Matahari tak akan pernah sanggup melawan Hati Pemiliknya, Selama hati itu selalu ada di genggamannya hingga Hati pun mengkristal, Malahan Matahari datang silih berganti diterbitkan setiap pagi Selama hati yang mengkristal selalu ada di genggamannya sinar matahari pun akan meredup Hujan yang mulai berjatuhan di Dunia Hingga Dunia tak lagi mengering Namun Semakin Bersemi.

Tapi sayang, kristal itu sudah tersimpan dan bahkan bersemi di dasar bola api itu, sehingga walaupun mendung ia tetap terasa di sisinya, karena mendung tak mesti hujan.

Kristal yang bersemi di dasar bola api tidak perlu di singkirkan dari sisi dunia karna kristal itu akan selalu berkilauan di mana saja, bahkan masih terasa di sisi dunia, Bola api pun akan tetap di luluhlantakkan oleh tetesan-tetesan air hujan yang mulai membanjiri dunia dan bahtera-bahtera kristal itu akan selalu memberi kilauan kepada dunia.

Sayangnya ketika kristal itu ada di perut matahari ia tak bisa apa-apa dan kilauannya pun sudah menjadi bagian dari sinar matahari itu sendiri.
Sungguh malangnya sang kristal.

Sang Kristal tidak begitu malang, Sang Matahari sendiri yang membuat kilauan kristal tertutupi, Andai Matahari Mengerti sangat mahal Kilauan Kristal untuk dunia Namun demikian, Matahari Rakus untuk membeli Dunia dengan terik panasnya sinar matahari.

(Tak perlu mengejar matahari yang sudah terbenam, masih ada rembulan yang akan menemani gelapmu). Tapi bagaimana dengan kristal yang ikut bersamanya? karena pada hakikatnya yang di kejar bukan matahari tapi kristal itu. Tapi, ... sang Kristal lebih memilih bersama matahari dari pada bersamaku. Sehingga sebagian dari diriku ada bersamanya. Jadi tak ada yang salah, bukan matahari pula yang rakus, tapi itulah pilihan sang kristal.

Oh Dunia! Janganlah Mengejar Sang Kristal di Dasar Bola api yang di geluti Matahari karna api matahari perlahan-lahan akan membuat dunia yang berada di sisi kristal hancur lebur.
pmiiraser
pmiiraser Dzikir, Fikir, Amal Sholeh

Post a comment for "MALANGNYA SANG KRISTAL"